Rabu Abeh atau Rabu Wekasan Bulan Shafar

Rabu Abeh (Habeh) bulan Shafar

Benarkah Allah menurunkan 320.000 ribu bala’?

Dalam masalah ini, belum kami dapatkan ada nash Hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Shafar. Yang ada hanya nash Hadits dha’if yang menjelaskan bahwa, setiap hari Rabu terakhir dari setiap bulan adalah hari naas/sial yang terus menerus sebagaimana disebutkan dalam kitab Faidhul Qadir hal. 64. Dan Hadits dha’if yang diriwayatkan oleh At Thabrani ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan.

Rabu Abeh atau Rabu Wekasan Bulan Shafar


Namun, ada beberapa ulama salaf yang termasuk tokoh sufi seperti Syaikh Ad Dairabi dalam kitabnya Mujarrobat, Syaikh Al Buni dalam kitabnya Al Firdaus, Syaikh Nawawi Al Banteni dalam kitabnya Nihayatus Zain halaman 63, Syaikh Al Kamil Farid Ad Din dalam Kitabnya Jawahirul Khamsi halaman 50-51, Syaikh Imam Hamid Al Quds mufti sekaligus Imam Masjidil Haram Mekah dalam kitabnya Kanzun Najah was Suruur, dan beberapa ulama lain. Mengatakan bahwa, pada hari Rabu terakhir pada bulan Shafar, Allah menurunkan 320.000 bala’. Mereka berpendapat kalau hari itu adalah hari yang tersulit dalam satu tahun, itulah kenapa beberapa ulama memberikan amaliyah khusus untuk menjaga diri atau menolak bala’.

Sebagain dari dalil tersebut
Sumber Referensi yang kami jumpai yang membahas masalah ini adalah kitab Kanzun Najah karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds. Salah satu tokoh sufi, murid Zaini Dahlan. Dalam buku tersebut, dia menyatakan di pasal: Hal-hal yang Dianjurkan ketika bulan safar,

اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين

Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburuhan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh.
[Selanjutnya, penulis menyebutkan beberada doa yang dia ajarkan. (Kanzun Najah, hlm. 49)].

Walaupun amaliyah ini masih belum bisa dikatagorikan landasan hujjah secara syar’i, kitab Nihayatus Zain (menulis ayat-ayat khusus, yang kemudian ditaruh dalam air untuk diminum), Mujarrobat dan Jawahirul Khamsi (shalat empat rakaat dengan bacaan khusus) menerangkannya secara jelas, amaliyah yang menjadi solusi ketika Rabu Wekasan tiba.

Praktek shalat pada hari Rabu Wekasan, ternyata sudah turun temurun dilakukan diberbagai daerah. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukannya secara berjamaah. Kaifiyah sholat Rabu Wekasan ini “agak beda” dengan shalat pada umumnya. Yakni, shalat sunat li daf'il bala' sebanyak empat rakaat dengan satu salaman yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam, pada masing-masing rakaat setelah Al Fatihah, membaca :
* surat Al Kautsar 17 kali,
* Surat Al Ikhlas 5 kali,
* Al Falaq 1 kali, An Nas 1 kali (pada setiap rakaat),

setelah salam membaca doa khusus. Yakni sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:


وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.


“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

juga setelah salam dilanjutkan membaca do’a

بسم الله الرحمن الرحيم ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ، اللهم يا شديد القِوى ويا شديد الْمِحال يا عزيزُ ذلَّت لعزتك جميع خلقك اكفني من جميع خلقك يا محسن يا مجمل يا متفضل يا منعم يا مكرم يا من لا إله إلا أنت برحمتك يا أرحم الراحمين اللهم بسرِّ الَحَسن و أخِيه وجَدَّه وأبِيه اكفني شر هذا اليوم وما ينزل فيه يا كافي ﴿ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ ﴾ و حسبنا الله ونعم الوكيل ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

Lalu ditambah dengan bacaan Jauharatul Kamal tiga kali, yaitu bacaan

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْر ِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِا الْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَة ًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ.

Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Hakikat Rahmat Ketuhanan, mutiara yang terang benderang memancar dengan rahsia pengertian dan pernyataan, cahaya segala sesuatu yang menjadikan manusia wadah Kebenaran Ketuhanan, yang bagaikan kilat memancar dengan melimpahkan curahan rahmat kepada setiap orang yang menghadap-Nya daripada segenap lingkungan dan masa, dan cahayaMU yang bergemerlapan memenuhi dengannya wadah ciptaanMU dengan ketinggian pangkat.
Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Hakikat Kebenaran yang mempernyatakan daripadanya naungan seluruh rahsia-rahsia hakikat yang memiliki kearifan tertinggi, yang sentiasa merintis jalanMU yang sempurna.
Ya Allah, Limpahilah Rahmat dan Kesejahteraan ke atas Penyeru Kebenaran dengan Kebenaran yang menjadi Gedung Teragung, Sumber bagi segala limpahanMu yang daripadaMU kepadaMU meliputi cahaya yang terpilih.
Rahmat Allah ke atasnya juga kepada keluarganya dengan rahmat membukakan kami dengannya haqiqat.

Kata mereka, bacaan Jauharatul Kamal ini memiliki keutamaan yang sangat banyak di antaranya adalah bahwa satu kali bacaan shalawat jauharatul kamal menyamai tasbih seluruh alam

Kemudian ditutup dengan bacaan surat Ash-Shaffat ayat 180-182, yaitu

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin.


Ritual ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab Jawahir Al Khamis karya Syeikh Al Kamil Farid Ad Din dan kitab Mujarabat karya Syaikh Ad Dairabi.
maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun


Banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya) macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.

Namun, Syeikh Zainuddin murid dari Syeikh Ibnu Hajar Al Maliki dalam kitab Irsyadul ‘Ibad mengatakan bahwa, shalat shafar termasuk Bid’ah madzmumah (tercela). Maka bagi orang yang ingin melaksanakan shalat pada hari itu (bulan Shafar), hendaknya berniat melaksanakan shalat sunnah mutlak (shalat yang tidak dibatasi oleh waktu, sebab dan bilangan).

====

didapatkan Hasil keputusan Bahtsul Masail PWNU Jatim 1980 M di PP Asem Bagus yang mengacu kepada pendapat atau fatwa dari Raisul akbar NU Syaikh Hasyim Asy’ari pun mengatakan bahwa, melakukan shalat Shafar (Rabu Wekasan) tidak boleh, karena tidak ada dalil dan masyru’ah dari syara’.

Penyusun : Abiyya Tgk. Nawawi Hakimis
Pimp Pon Pes / Dayah Nihayatul Muhtaj
Kec. Tangan-tangan, Aceh Barat Daya

Source : https://m.facebook.com/photo.php?fbid=784687391545976&id=100000141685474&set=a.230504193630968

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rabu Abeh atau Rabu Wekasan Bulan Shafar"

Posting Komentar