Panji Liwa' dan Rayah Merupakan Bagian Identitas Bersama Rasulullah

Panji Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Kecintaan orang yang membawa bendera dan panji-panji Islam melebihi kecintaan orang yang tengah di mabuk asmara. Para sahabat Rasulullah saw selalu berharap bahwa diri merekalah yang menjadi pembawa bendera. Salah satu contohnya ditunjukkan pada saat perang Khaibar, dimalam hari dimana keesokan paginya Rasulullah saw akan menyerahkan bendera/panji-panji kepada seseorang:

«فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوْكُوْنَ لَيْلَتَهُمْ: أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا؟»

Malam harinya, semua orang tidak tidur dan memikirkan siapa diantara mereka yang besok akan diserahi bendera itu. (HR. Bukhari)

Bahkan Umar bin Khaththab ra sampai berkata:

«مَا أَحْبَبْتُ اْلإِمَارَةَ إِلاَّ يَوْمَئِذٍ»

Aku tidak mengharapkan kepemimpinan kecuali pada hari itu. (HR. Bukhari)

Liwa (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam.

Banyak riwayat (hadits) yang menunjukkan warna liwa dan rayah, diantaranya:

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ، مَكْتُوبٌ فِيهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

“Panjinya (râyah) Rasulullah saw berwarna hitam, dan benderanya (liwâ’) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh”." (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani, Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu II/416)

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلى الله عليه وسلم- كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Rayahnya (panji peperangan) Rasul saw berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih. (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ –صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Panji (rayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwa-nya (benderanya) berwarna putih.

Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah.

 رُوي عن ابن عباس عند أبي الشيخ بلفظ  كان مكتوباً على راية النبي صلى الله عليه وسلم لا إله إلاّ الله محمد رسول الله

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas menurut Abu Syaikh dengan lafadz: “ditulis pada panji Rasulullah saw, Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah”

Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih. Hal ini dijelaskan oleh al-Kittani6, yang berkata bahwa hadits-hadits tersebut (yang menjelaskan tentang tulisan pada liwa dan rayah–pen) terdapat di dalam musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas. Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu Adi melalui jalur Abu Hurairah. Begitu juga hadits-hadits yang menunjukkan adanya lafadz Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah, pada bendera dan panji-panji perang, terdapat pada kitab Fathul Bari



Ja'far bin Abu Thalib rela kehilangan kedua tangannya hanya untuk mempertahankan bendera tauhid agar jangan sampai jatuh ke tanah.

Dengan sisa lengan bagian atasnya, ia pun tetap berusaha untuk memeluk ar Rayyah, hingga kemudian ia syahid saat tubuhnya ditebas menjadi dua bagian.

Sementara di bumi belahan lain, ada tangan-tangan juhala membakar bendera tauhid dengan dalih menjaga kalimat tauhid.

Tangan juhala itu salah mengemas kebencian dan menampilkan sebuah logika yang pahit.

( Muhammad Sholich Mubarok )

===

Pada tahun 9 H, Zaid bin Haritsah gugur sebagai syuhada sambil mempertahankan bendera Tauhid agar tetap berkibar pada Perang Mu'tah melawan kaum kafir Romawi.

Kemudian bendera Tauhid itu mati-matian dipertahankan agar tetap berkibar oleh Ja'far bin Abi Thalib. Sampai-sampai kedua tangan Ja'far tertebas pedang musuh. Dengan kedua tangan yang masih tersisa, Ja'far tetap mati-matian mempertahankan bendera Tauhid sampai gugur sebagai syahid.

Kemudian bendera itu diambilalih oleh Abdullah bin Rawahah dan dipertahankan sampai ia pun gugur sebagai syahid.

Sekarang kita melihat bendera Tauhid itu dibakar oleh orang-orang yang mengaku Muslim.

Bagaimana mungkin mereka mengaku Muslim, tapi menistakan kalimah tauhid? Padahal kalimah itulah yang menandakan ada atau tidaknya iman di hati mereka.

Kami tak percaya kalau mereka itu santri. Bahkan tak percaya kalau mereka itu Muslim.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Panji Liwa' dan Rayah Merupakan Bagian Identitas Bersama Rasulullah"

Posting Komentar