Dalil Tahlil dan Yasinan

السلام عليكم ورحمة الله وبركة
الحمد الله رب العالمين والصلاة والسلام على اله وصحبه اجمعين، اشهد ان لا اله الّا الله وحده لا شريك له واشهد ان
محمدا رسول الله لا نبي بعده

... قال الله تعالى في القران الكريم ( فاعلم انه لا اله الّا الله (( محمد : ١٩ ))
Artinya:
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal ( Q.S.MUHAMMAD: 19)

Assalamu'laikum wr,wb ;

Segala puji kita sampaikan kepada Allah swt yang mana Allah swt senantiasa mencurahkan rahmad kepada hambanya yang mukmin dan yang kafir,sehingga kita masih di berikan kesempatan oleh beliau untuk dapat menyelam ke dalam lautan ilmunya Allah .dan shalawat dan shalam kepada rasulullah saw yang mana beliau yang telah memperjuangkan agamanya Allah(إن الدين عند الله الإسلام) sesungguhnya agama yang hak di sisi Allah adallah islam.



Sebelum kita memasuki terlebih jauh tentang permasalahan kalimat لا اله الّا الله atau sering di istilahkan dengan penamaan تهليل yang menjadi nama dari kalimat لا اله الّا الله ,
Di Dalam ilmu saraf bahwa kalimat تهليل itu di ambil dari sulasi mujarrad dari timbanggan (هلّ-يهلّ-هلّا-هلالا ) lalu dari bab sulasi mujarrad di naikkan kepada sulasi mazid dengan ditambahkan satu huruf yang sejenis dengan عين الفعل ma jadilah hallala(هلّل)yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan ( تَهْلِيْلاً ) yang memiliki bina asalnya لتكثير dan memiliki bina furu' لإختصار الحكية (meringkaskan dari suatu perkataan) artinya adalah membaca kalimat لا اله الّا الله
(اھ تلخيص الأساس ص: ٢٢)

'Irab kalimat tauhid
الاعراب : ( لا َ إِلَٰهَ إِلّا َ اللهُ )
Lā ilāha illā ِِAllāh

- Huruf لا di sini adalah nafiyyah liljinsi(لا لنفية لجنس) (peniadaan jenis). Huruf tersebut memiliki isim dan khabar. Disebut لا لنفية لجنس (peniadaan jenis) karena meniadakan khabarnya dari seluruh yang termasuk kedalam jenis ismnya, sehingga لا لنفية لجنس merupakan bentuk peniadaan yang paling luas cakupan peniadaannya.
- Huruf ini disebut juga (لا لاستغراكية), karena cakupan peniadaannya mencakup seluruh jenis ismnya
- dan disebut pula (لا لتبرية), karena melepaskan jenis ismnya dari makna khabarnya.
- Adapun isim (لا حرفية لجنسية) dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh adalah ilāha (إله), sementara khabarnya tidak disebutkan takdirnya (الحق).

- kata (ilah /اله) adalah isim mashdar dalam arti isim maf’ul, yaitu (ma’luh/مألوه ) yang mempunyai arti معبود / ma’bud (yang disembah/diibadahi) baik secara batil (salah) maupun secara hak (benar). Yang diibadhai secara batil termasuk di antaranya adalah jin, malaikat, matahari, bulan, bintang, berhala, manusia dan hawa nafsu.
- فضلة كلمة لا اله الّا الله:
> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
Dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya”. HR Bukhari

> فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ.

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang berucap la ilaha illallah dengannya ia mengharap wajah Allah.” (HR. Muslim)

Istilah( تهليل) ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia.

> وقال صلى الله عليه وسلم( اتاني آت من ربي، فأخبرني انه من مات يشهد ان لا اله الّا الله وحده لا شريل اله دخل الجنّة) (أخرجه البخاري(٢٣٨٨)

> وقال صلى الله عليه وسلم) (من دخل القبر ب لا اله الّا الله خلصه الله من النر) (اخرجه النسائي في الكبرى(١٠٩٥٠)

> وقال صلى الله عليه وسلم(اسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال لا اله الّا الله خالصا مخلصا من قلبه) (اخرجه البخاري)(٦٥٧٠)

(اھ.شرح ام البراهين ص : ١٤٦)

> قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (من قال لا اله الّا الله ثلاث مرّات فيومه،كانت له كفارة ذنب اصابه ذلك اليوم) (يشهد له ما رواه ابو داود) (٥٠٧٨)
(اھ. شرح ام البراهين ص : ١٥٢)

Dan banyak lagi fadhillah-fadhillah yang terkandung di dalam كلمة لا اله الّا الله atau di dalam كلمة تهليل maka apa salahnya jikalau kita memperbanyak beramal dengan kalimat tersebut.

PERTANYAAN :

apakah sampai bacaan tahlil kepada si mayat?

Seperti yang di sebutkan dalam hadits ;

> قَالَتْ عَائِشَةُ وَارَأْسَاهْ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « ذَاكِ لَوْ كَانَ وَأَنَا حَىٌّ ، فَأَسْتَغْفِرُ لَكِ وَأَدْعُو لَكِ » (البخارى )

“Aisyah berkata: ‘Aduh kepalaku sakit’. Rasulullah bersabda: ‘Jika kamu wafat dan saya masih hidup, maka saya mintakan ampunan untukmu dan akan mendoakanmu” (HR al-Bukhari).

Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa jika kita menjenguk orang sakit atau takziyah orang meninggal, kita setidaknya mendoakan orang tersebut. Dalam hadits lain juga menerangkan bahwasanya bersedekah atas nama orang yang meninggal dunia maka orang yang meninggal tersebut mendapatkan pahala.

> وَعَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – . أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ ». متفق عليه.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw: Ibu saya meninggal mendadak. Saya yakin andai ia bisa bicara maka ia akan bersedekah. Apakah beliau dapat pahala jika saya bersedekah atas nama beliau? Nabi menjawab: Ya. (Muttafaq Alaih)

Seperti yang dijelaskan oleh Hadits berikut bahwa dzikir Adalah sedekah:

> إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَة (مسلم )

“Rasulullah bersabda: Sesungguhnya dengan setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap amar makruf adalah sedekah, setiap nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim)

PERTANYAAN :

> مَا الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ، فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُدْخِلُ عَلَى أَهْلِ الْقُبُورِ مِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الْأَرْضِ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، وَإِنَّ هَدِيَّةَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ

Tidaklah semata-mata mayat di alam kubur melainkan laksana orang yang sedang tenggelam yang minta bantuan, mereka menanti do’a (pahala) yang dilakukan orang hidup yang disampaikan kepadanya, baik dari bapak, ibu, saudara atapun kawan. Apabila ada do’a dan pahala kebaikan dikirimkan kepadanya maka itulah yang mereka sukai daripada dunia beserta isinya. Sesungguhnya Allah akan memasukkan kepada penghuni kubur daripada do’a-do’a penghuni bumi seperti gunung kebaikan, sesungguhnya pemberian hadiah orang hidup terhadap orang mati ialah memohonkan ampunan untuk mereka. (HR Al-Baihaqi, Ad-Daelami) Sumber: Kitab Syu’bul-Iman Al-Imam Al-Baihaqi

Kedua :

> لا يأتي على الميت أشد من الليلة الأولى فارحمو بالصدقة من يموت

Tidaklah datang kepada mayat yang lebih dahsyat keresahannya melainkan di malam pertama, maka kasihanilah mereka dengan bersedekah atas nama orang yang meninggal itu. Sumber: Nihayatuz-zein Syekh Nawawi

Sebagaimana hadist yg telah di sebutkan di atas bahwa membaca tahlil itu juga dikira dengan bersedekah .jadi apa salahnya kita bersedekah denggan membaca tahlil di rmh si mayat buat memberi manfaat kepada si mayat dan juga menenangkan si mayat dalam menjalani kehidupan barunya di kubur.

PERTANYAAN :

Bagaimana dengan membaca yasinan di rumah si mayat apakah sampai ?

- Hadits Riwayat Ma’qil bin Yasar RA.

عن معقل بن يسار أن رسول الله ص م قال ويس قلب القرأن لا يقرؤها رجل يريدالله تبارك وتعالى والدار الاخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم

“Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Surat Yasin adalah intisari Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah SWT kecuali Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah surat Yasin atas orang-orang yang telah meninggal di antara kamu sekalian” (Musnad Ahmad bin Hambal, 19415)

Hadits di atas secara tegas menganjurkan membaca Al-Qur’an untuk orang yang yang telah meninggal dunia, karena yang dimaksud mautakum dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang telah diambil ruhnya. Sebagaimana dijelaskan dalam. ( kitab Haula Khasaish Al-Qur’an.)

- Hadits riwayat sayyidina Ali RA yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad Al-Samarqandi, Al-Rafi’I dan Al-Daraquthni

عن علي رضي الله عنه, أنه عليه الصلاة والسلام قال : من مر على المقابر وقرأ قل هوالله احد احدى عشرة مرة ثم وهب اجرهاللأموات اعطي من الأجر بعدد الأموات

“Dari Ali RA Rasulullah SAW bersabda. “Barang siapa berjalan melewati pemakaman, lalu membaca surat Al-Ikhlas sebelas kali dan menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur, maka ia akan diberi pahala sejumlah ahli kubur.” (diriwayatkan oleh Abu Muhammad Al-Samarqandi Al-Qur’an 45)
- Al-Khallal dari al-Sya’bi berkata :

كانت الانصار اذا مات لهم الميت اختلفوا على قبره يقرءون عنده القرأن

“Jika ada sahabat di kalangan Anshar meninggal dunia, mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al-Qur’an”. (al-Ruh, 11)
Berdasarkan beberapa hadits serta amaliyah para sahabat di atas jelaslah bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan membaca Al-Qur’an di atas kubur, lalu para sahabat mengerjakan anjuran Nabi SAW tersebut. Jadi tidak diragukan lagi bahwa bacaan Al-Qur’an atau amal ibadah lainnya dapat bermanfaat kepada mayit. Sebab bila tidak ada manfaatnya, Nabi SAW tidak akan menganjurkan para sahabatnya melakukan sesuatu yang sia-sia, tidak ada guna dan manfaatnya.

# PENDAPAT PARA ULAMA :

Mayoritas ulama menyatakan bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari usaha (amal orang yang masih hidup).

> Kata Imam Al-Qurthubi :

كان الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه يقول اذا دخلتم المقابر فاقرءوا فاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هوالله احد واجعلوا ثواب ذلك لأهل المقابر فإنه يصل اليهم

> Imam Ahmad bin Hambal RA berkata : “Apabila kamu berziarah ke pemakaman, maka bacalah surat Al-Fatihah, Al-Mu’awwidzatain, dan surat Al-Ikhlas. Kemudian hadiahkan pahalanya kepada ahli kubur. Maka sesungguhnya pahala tersebut sampai kepada mereka”.(Mukhtashar Tadzkirat Al-Qurthubi, 25)

> Dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan :

قال ابن حجر نقلا عن شرح المختار: مذهب أهل السنة ان للإنسان ان يجعل ثواب عمله وصلاته للميت ويصله

“Ibnu Hajar dengan mengutip Syarh Al-Mukhtar berkata: “Madzhab Ahlussunnah berpendapat bahwa seseorang dapat menghadiahkan pahala amal dan do’anya kepada arang yang telah meninggal dunia. Dan pahalanya akan sampai kepadanya” (Nihayah Al-Zain, 193)
> Ibnu Taimiyyah mengemukakan beberapa alasan mengenai sampainya hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab Tahqiq Al-Amal, 53-56 :

قال ابن تيمية, من اعتقد أن الإنسان لاينتفع الا بعمله فقد خرق الإجماع وذلك باطل من وجوه كثيرة

“Ibnu Taimiyyah berkata, “Barang siapa berkeyakinan bahwa manusia tidak dapat memperoleh manfaat kecuali dari amalnya sendiri, maka ia telah menentang ijma’. Hal itu batal karena beberapa hujjah sebagai berikut :
- Manusia dapat memperoleh manfaat do’a orang lain, dan ini berarti memperoleh manfaat dari amal orang lain.

احدها أن الإنسان ينتفع بدعاء غيره, وهو إنتفاع بعمل الغير

- Berdasarkan hadis dan ijma’ ulama, haji fardlu yang menjadi tanggungan mayit dapat gugur dengan haji yang dilakukan walinya. Keterangan ini menunjukkan bermanfaatnya amal orang lain.

أن الحج المفروض يسقط عن الميت بحج وليه بنص السنة والإجماع, وهو انتفاع بعمل الغير

- Tetangga yang baik dapat memberi manfaat ketika masih hidup atau setelah ia meninggal dunia seperti dijelaskan dalam atsar.

أن الجار الصالحة ينفع فى المحيا والممات كماجاء فى الأثر

> Dalam kitab Nailul Author, Al-Syaukani mengutip syarah kitab Al-kanz :

وقال فى شرح الكنز إن للإنسان ان يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان او صوما او حجا او صدقة او قراءة قرأن او غير ذلك من جميع انواع البر ويصل ذلك الى الميت وينفعه عند أهل السنة

“Dalam syarah kitab Al-Kanz disebutkan bahwa seorang boleh menghadiahkan pahala perbuatan baik yang ia kerjakan kepada orang lain, baik berupa sholat, puasa, haji, shodaqoh, bacaan Al-Qur’an atau semua bentuk perbuatan baik lainnya, dan pahala perbuatan tersebut sampai kepada mayit dan memberi manfaat kepada mayit tersebut menurut ulama’ Ahlussunnah. (Nail Al-Author, Juz IV hal 142)

> Setelah menjelaskan bahwa seluruh ulama’ telah sepakat tentang sampainya pahala bacaan Al-Qur’an atau dzikir lainnya kepada mayit, Sayyid Alawi Al-Maliki, salah seorang guru besar di masjid Al-Haram pada zamannya berkata:

فان زعم احد انها حرام فقولوا له اين تحريمها فى كتاب الله او فى سنة رسول الله ص م واتلوا عليه "ولاتقولوا لما تصف السنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب ان الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون"

وقولوا له ايضا ان زعمت انك مجتهد فليس اجتهادك اولى بالصواب من قول هؤلاء الأئمة الذين حكينا عنهم الإباحة مع ما يعضدهم من أذلة السنة النبوية, وان كنت مقلدا سقط الكلام معك والسلام
“Kalau ada orang menyangka bahwa hal tersebut (menghadiahkan pahala kepada orang mati) hukumnya haram, maka tanyakanlah kepadanya, “pada bagian manakah di dalam Al-Qur’an atau Hadits yang mengharamkan hal tersebut ?” kemudian bacalah ayat yang artinya “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta” ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah SWT tiadalah beruntung”.(QS Al-Nahl, 116). Katakan juga kepadanya, “Kalau memang anda merasa sebagai seorang mujtahid, maka ijtihad anda tidak lebih benar dari ijtihad para Imam yang disebut di atas, yang berpendapat boleh menghadiahkan pahala kepada orang lain berdasarkan dalil yang kuat dari hadits SAW. Namun jika anda masih dalam tingkatan muqallid, maka selesailah diskusi ini dengan anda” (Faidlu Al-Khabir, 178)

> Kemudian yang dimaksud dengan pendapat yang masyhur dari Imam Syafi’i RA tentang tidak sampainya bacaan Al-Qur’an kepada orang mati.

Seperti yang dikatakan Muhammad Ahmad Abdissalam :

والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لايصل الى الميت ثواب قراءة القرأن
- Menurut pendapat yang “Masyhur” dari madzhab Syafi’I, serta segolongan dari Ashab Al-Syafi’I (pengikut madzhab Syafi’i), bahwa pahala membaca Al-Qur'an tidak sampai kepada mayit” (Hukmu Al-Qira’ah li Al-Amwat, 18-19)

Di kalangan Syafi’iyyah dalam menyimpulkan pendapat Imam Syafi’I ada beberapa istilah. Seperti Al-Shahih, Al-Azhhar, Al-Masyhur, Al-Rajih dan lain sebagainya, yang definisi istilah-istilah tersebut bisa dilihat pada( kitab-kitab fiqih Syafi’iyyah).

- Sedangkan maksud pendapat Al-Masyhur dalam persoalan ini adalah apabila Al-Qur'an tidak dibaca di hadapan mayit dan tidak diniatkan sebagai hadiah kepada orang yang meninggal dunia tersebut.

- Salah seorang tokoh Syafi’iyyah, Syekh Zakaria Al-Anshari Al-Syafi’I menerangkan :
إن مشهور المذهب اي فى تلاوة القرأن محمول على ما اذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو الثواب له او نواه ولم يدع
“Sesungguhnya pendapat yang masyhur (dalam madzhab Imam Syafi’i) mengenai pembacaan Al-Qur'an, adalah apabila tidak dibaca di hadapan mayit, serta pahalanya tidak diniatkan sebagai hadiah, atau berniat tetapi tidak didoakan” (Hukm Al-Syari’ah Al-Islamiyah fi Ma’tam Al-Arba’in, 43)

Hal tersebut karena Imam Syafi'i RA sendiri berpendapat sunnah membaca Al-Qur'an di dekat mayit. Imam Syafi'i RA berkata :

ويستحب ان يقرأ عنده شيئ من القرأن وان ختموا القرأن كله كان حسنا

“Disunnahkan membaca sebagian ayat Al-Qur'an di dekat mayit, dan lebih baik lagi jika mereka (pelayat) membaca Al-Qur'an sampai khatam”. (Dalil Al-Falihin Juz VI hal 103)

Dan banyak riwayat yang menyatakan bahwa Imam Syafi'i RA berziarah ke makam Laits bin Sa’ad dan membaca Al-Qur'an di makam tersebut.

وقد تواتر أن الشافعي زار الليث بن سعد وأثني خيرا وقرأ عنده ختمة وقال أرجو أن تدوم فكان الأمر كذلك

“Sudah popular diketahui oleh orang banyak bahwa Imam Syafi'i pernah berziarah ke makam Laits bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Qur'an sekali hatam di dekat makamnya. Lalu beliau berkata, “Saya berharap semoga hal ini terus berlanjut dan senantiasa dilakukan” (Al-Dakhirah Al-Tsaminah, 64)
Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelas bahwa Imam Syafi'i RA juga berkenan menghadiahkan pahala kepada mayit. Hanya saja harus dibaca di hadapan mayit, atau di do’akan pada bagian akhirnya kalau mayit tidak ada di tempat membaca Al-Qur'an tersebut. Dengan kehendak Allah SWT pahala bacaan tersebut akan sampai kepada mayit. (Al-Tajrid Li Naf’I Al-‘Abid Juz III hal 276)
Mengenai keharusan berdo’a setelah membaca Al-Qur'an atau dzikir (tahlil), bagi Imam Syafi'i RA itu merupakan satu syarat yang mutlak dilakukan. Sebagaiman diriwayatkan oleh Rabi’ bahwa Imam Syafi'i RA berkata :

وأما الدعاء : فإن الله ندب العبادة اليه وامر رسوله ص م به فاذا اجاز ان يدعى للأخ حبا جاز ان يدعى له ميتا ولحقه أن شاء الله بركة ذلك مع أن الله واسع لأن يوفي الحي اجره ويدخل على الميت منفعته

“Tentang do’a maka sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya untuk berdo’a kepada-Nya, bahkan juga memerintahkan kepada Rasul-Nya. Apabila Allah SWT memperkenankan umat islam berdo’a untuk saudaranya yang masih hidup, maka tentu diperbolehkan juga berdo’a untuk saudaranya yang telah meninggal dunia. Dan barokah do’a tersebut insya Allah akan sampai. Sebagimana Allah SWT Maha Kuasa memberi pahala bagi orang yang hidup, Allah SWT juga Maha Kuasa untuk memberikan manfaatnya kepada mayit. (Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam kitab Manaqib Al-Syafi’i Juz I hal 430)

Di dalam keterangan lain juga disebutkan :
> Fathul Mu’in Juz III hal 378 ( Dar al-Kutub al-Ilmiyah )
أما القراءة فقد قال النووي فى شرح المسلم : المشهور من مذهب الشافعي أنه لايصل ثوابها الى الميت. وقال بعض أصحابنا يصل ثوابها للميت بمجرد قصده بها, ولو بعدها, وعليه الأئمة الثلاثة واختاره كثيرون من أئمتنا, واعتمده السبكي وغيره, فقال : والذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك, وحمل جمع عدم الوصول الذي قاله النووي على ما إذا قرأ لابحضرة الميت ولم ينو القارئ ثواب قراءته او نواه ولم يدع.
وقد نص الشافعي والأصحاب على ندب قراءة ما تيسر عند الميت والدعاء عقبها, اي لانه حينئذ ارجى للإجابة, ولأن الميت تناله بركة القراءة :كالحي الحاضر
قال ابن الصلاح : وينبغي الجزم بنفع ( اللهم أوصل ثواب ما قرأته ) اي مثله, فهو المراد, وان لم يصرح به لفلان, لأنه اذا نفعه الدعاء بما ليس للداعي فما له اولي. ويجرى هذا فى سائر الأعمال من صلاة وصوم وغيره.
Keterangan : Imam Syafi'i dan Ashab menjelaskan tentang kesunnahannya membaca Al-Qur'an dihadapan mayit dan diakhiri dengan do’a, karena dengan begitu kemungkinan besar bacaan dan do’a kita akan terkabulkan. Serta si mayit memperoleh barokah dari bacaan tersebut

>Bugyah Al-Musytarsidin hal 97 :

(فائدة) رجل مر بمقبرة فقرأ الفاتحة واهدى ثوابها لأهلها فهو يقسم او يصل لكل منهم مثل ثوابها كاملا؟ اجاب ابن حجر بقوله افتى جمع بالثانى وهو اللائق بسعة رحمة الله
Keterangan : Seorang laki-laki berjalan di atas pemakaman kemudian dia membaca surat Al-Fatihah yang pahalanya dihadiahkan kepada ahli kubur tersebut, maka menurut fatwa sekelompok ulama, pahala tersebut bisa sampai kepada ahli kubur.

> Ianatut Thalibin Juz I hal 24 :

وقال المحب الطبري : يصل للميت كل عبادة تفعل. واجبة او مندوبة وفى شرح المختار لمؤلفه مذهب أهل السنة إن للإنسان ان يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.


( السلام عليكم ورحمة الله وبراكة )
Penyusun : Muhammad Kautsar Alfaridzi (BNA)
Santri Dayah Nihayatul Muhtaj, Tangan-tangan, Aceh Barat Daya, Aceh, Indonesia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dalil Tahlil dan Yasinan"

Posting Komentar