Telitilah dan ilmuilah dari guru yang Tsiqat dan Amin

Kajian Rabu ke Empat Ramadhan 1433 H di Pondok Pesantren / Dayah Dayah Nihayatul Muhtaj.

Ambillah ‘ilmu dari guru yang “Tsiqat” dan "Amin".







Berkata Al Faqih (Abu Al-Laits Azzahid Nashir bin Muhyammad bin Ibrahim Assamarqandy, janganlah para penuntut ilmu mengambil ilmu kecuali dari yang “amin” dan Tsiqat.

Diriwayatkan dar ‘Ubbad bin Katsir dari Nabi Shallallhu ‘alaih iwasallam bahwasanya Rasulullah SAW bersabda janganlah terima informasi dari orang yang tidak diterima “Syahadah” nya

Sumber : Bustanul ‘Arifin : 11

Difahami dari kalimat diatas, bagi si guru agar ilmu yang diberikan untuk anak didiknya diaharapkan agar ia bersikap sebagai sikap yang “Amin” dan Tsiqat”
===

Bagi simurid (penuntut ilmu) sebaiknya memasang niat dengan niat :
1. Menghilangkan (mengeluarkan) dirinya dari kejahilan (kebodohan) dirinya
قل هل يستوى الذين يعلمون والذين يعلمون

2. Bermanfaat bagi makhluk (manusia)
خيرالناس من ينفع للناس (الحديث)

3. Menghidupkan ilmu
تعلموا العلم قبل ان يرفع العلم (الحديث)

4. Untuk di ‘amalkan
العلم الة للعمل

Sumber : Bustanul ‘Arifin : 16-17

Difahami dari tulisan diatas, muncul pertanyaan dalam diri kita; adakah kita sebagai penuntut ilmu meniatkan seperti yang tersebut diatas..?

Nawawi Hakimis

==


Telitilah dari siapa kita mendapatkan ilmu.

إِنَّ مَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ، وَكَانَ رِدْئاً لِلإِسْلاَمِ، غَيَّرَهُ إِلىَ مَا شَاءَ اللهُ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلىَ جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ، قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، أَيُّهُمَا أَوْلىَ بِالشِّرْكِ ، الْمَرْمِيُّ أَمِ الرَّامِيْ ؟ قَالَ : بَلِ الرَّامِيْ

"Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik." Aku bertanya: "Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?" Beliau menjawab: "Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan]." (HR. Abu Nu’aim, Al Bazzar dengan sanad hasan, lihat silsilah ash shahîhah). 

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ حُدَّاثُ اْلاَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلاَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ اِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَاَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ، فَاِنَّ فِيْ قَتْلِهِمْ اَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. البخارى 8: 52

Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Di akhir jaman nanti akan muncul suatu kaum yang umur mereka masih muda, dan akal merekapun masih bodoh. Mereka mengatakan (yang kelihatannya) dari sebaik-baik perkataan manusia, (namun untuk tujuan yang jahat), iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah dicabut dari buruannya. Maka dimanapun kalian menemui mereka, bunuhlah, karena barangsiapa yang membunuh mereka akan mendapat pahala bagi pelakunya pada hari qiyamat”. [HR.Bukhari juz 8, hal. 52]

يُحسِنون القيلَ ويُسَيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء

“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)

Oleh : Nawawi Hakimis
Pon Pes Dayah Nihayatul Muhtaj

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Telitilah dan ilmuilah dari guru yang Tsiqat dan Amin"

Posting Komentar